Seorang sahabat asal kota Surabaya pernah bercerita kepada saya soal perjuangannya sewaktu masih kuliah di UGM Yogyakarta, bahkan sampai ia lulus kuliahpun ia dapat tawaran kerja disana, meski dengan gaji minim, tak sebesar umr yang ada dikota Surabaya, tapi untuk mencari pengalaman dulu bagi Gilang bukan masalah besar karena ia tetap dapat kiriman uang dari orang tuanya.
Meski sering telatnya kiriman uang dari kedua orang tuanya, yang mengharuskan ia lebih berhemat. Apapun semua serba hemat dari urusan makan hingga mencari kost,san murah. Apapun bentuk kost,sannya bagi Gilang yang penting bisa tidur dan cukup nyaman sudah lebih dari cukup baginya. Dan suatu hal yang nggak mungkin bagi Gilang untuk pulang pergi Surabaya-Yogyakarta.
Saat banyak informasi menyebut betapa mahal harga-harga kost di Jogja, menemukan kos di harga Rp350 ribu bagi seorang perantau seperti Gilang menjadi 'berkah' tersendiri. Hanya saja, tinggal di sebuah kos murah di salah satu sudut Taman Siswa (Tamsis) itu memberi drama-drama tak terduga. Dari suara “ceplak-ceplok” tiap malam hingga terusir gara-gara sengketa warisan.
Saat mencari-cari kost di daerah Kota Jogja melalui Facebook dan internet, rata-rata memberi harga di angka Rp600 ribu ke atas. Itu membuat Gilang menelan ludah. Maklum, itu kali pertama ia merantau. Sebelumnya ia tinggal bersama orang tuanya di Surabaya, Jawa Timur.
Pada awal 2024 Gilang memenuhi panggilan kerja di daerah Kota Jogja. Sembari mencari kost, ia numpang dulu di kost seorang temannya selama seminggu.
Setelah hampir setiap saat menyisir info kost di Facebook, pemuda asal Surabaya itu kemudian menemukan akun yang menawarkan kos dengan harga lebih murah: Rp350 ribu. Tak pikir panjang, nomor kontak yang tertera langsung ia hubungi, hari itu juga langsung survei ke lokasi di sekitar Taman Siswa, dan tak ragu sama sekali untuk mengambilnya. Ya masa mau numpang terus kalau tidak menemukan kost murah.
Namanya juga kos dengan harga Rp350 ribu, di Kota Jogja lagi, jadi jangan berharap muluk-muluk. Apalagi sebenarnya sudah dapat isian: lemari (walaupun pintunya somplak) dan kasur (walaupun buluk dan tipis). Kamar mandi luar, tidak masalah. Berdinding triplek juga tak jadi soal.
“Aku yang penting bisa untuk tidur dan naruh barang. Buat neduh pas hujan. Walaupun gentengnya bocor dikit-dikit, nggak apa-apa lah,” Ucap Gilang. Pekerjaan pertamanya di Kota Jogja itu baru bergaji di bawah UMR. Jadi persetan ngekos dengan harga mahal. Wong makan aja, waktu itu, ia lebih sering di angkringan atau di Warmindo. Pokoknya jangan sampai di atas Rp15 ribu lah sekali makan. Itu untuk dua kali makan.
Beberapa hari pertama mendiami kos murah tersebut, sebenarnya tidak ada masalah berarti bagi Gilang. Nyamuk-nyamuk besar atau kecoa melintas bukan jadi perkara menganggu. Sebab, sekali masuk kost dan tertidur pulas, mau diserbu kawanan nyamuk dan kecoa kayak bagaimana pun Gilang tetap tidak bergeming. Yang penting pulas dengan ngorok kerasnya.
Situasi agak janggal dan mengganggu justru berasal dari dinding triplek yang menjadi pembatas antar-kamar. Meski bertuliskan 'kos putra', tak jarang Gilang mendapati satu-dua anak kost membawa perempuan. Sering kali mereka akan masuk di jam-jam 10 malam ke atas.
“Agak kaget iya. Karena kan aku anak rumahan. Jadi kayak aneh saja pas tahu ada fenomena begitu,” Ujar Gilang. Lebih-lebih, sejak SD hingga sekarang bekerja, ia hanya pernah merasakan cinta-cinta tak terbalas. Suka perempuan, tapi tak disukai balik. Jadi belum pernah punya pengalaman menjalin hubungan dengan lawan jenis.
Gilang awalnya mencoba abai saja dengan pemandangan di kostnya di Tamsis, Kota Jogja, tersebut. Namun, satu malam membuat situasi berubah.
“Sebenarnya nggak sengaja. Tengah malam aku kebangun karena kebelet kencing. Keluar ke kamar mandi sambil ngantuk-ngantuk, belum nyadar apa yang terjadi. Tapi pas balik ke kamar, kok dengar ada suara “ceplak-ceplok” di kamar sebelah. Ya terdengar keras, kan cuma kehalang triplek,” beber Gilang. Itu membuat Gilang penasaran.
Karena penasaran, di kos murahnya di Taman Siswa, Kota Jogja, itu Gilang malah sering sengaja menunggu lewat tengah malam. Memang tidak hampir setiap malam. Tapi amat sering ia mendengar suara-suara semacam itu. Kadang hanya bunyi “ceplak-ceplok”, sesekali bercampur suara laki-laki dan perempuan mendesis bersahut-sahutan.
“Geli di telinga. Tapi penasaran hahaha,” ucap Gilang. Tapi ya lama-lama ia terbiasa juga. Walaupun ada nelangsa-nelangsanya sedikit karena masih jomblo sejak SD hingga di umur 24 tahun.
Jika bunyi dan suara tengah malam itu membuat Gilang penasaran, beda dengan suara lainnya yang ia dengar di kos murah Taman Siswa, Kota Jogja tersebut.. Pernah suatu kali ia mendengar suara ribut dari kamar lain. Terdengar keras sekali suara laki-laki dan perempuan saling membentak.
Gilang juga menduga terjadi kekerasan di sana. Walaupun ia tak bisa memastikan, siapa yang memukul dan siapa yang sebenarnya dipukul. Yang jelas, ia mendengar ada suara tamparan, jeritan, bahkan sampai membentur triplek yang jadi pembatas. Untung tak sampai roboh.
"Aku intip ke luar kamar, penghuni lain nggak peduli. Aku ya nggak berani kalau mau ikut campur. Kecuali kalau ada suara minta tolong, pasti aku panggil pemilik kost". Karena rumah si pemilik kost memang tidak berdekatan dengan lokasi kost.
Meski begitu, nyatanya Gilang bisa betah di kost murah Tamsis, Kota Jogja tersebut hingga tiga bulan. Tidak ada pilihan lain. Sementara itu kost paling murah yang bisa ia dapat.
Sayang, di saat Gilang sudah mencoba berdamai dengan segala situasi di kost tersebut, situasi paling tak terduga lain malah datang. Suatu hari tiba-tiba ada seseorang, bukan pemilik kost yang ia kenal, yang meminta agar penghuni kos segera meninggalkan kos tersebut. Dikasih waktu 1×24 jam. Rami tentu bingung, siapa orang ini kok tiba-tiba mengusir paksa?
“Dari penghuni lain yang lebih lama tinggal, baru aku tahu ternyata itu saudara pemilik kostnya. Bangunan dan tanah kos itu ternyata jadi sengketa warisan keluarga. Jancuk tenan,” jelas Gilang.
Hal hasil, mau tak mau Gilang harus mengangkut barang-barangnya. Numpang lagi ke kos teman. Gilang kini sudah pindah tempat kerja dengan gaji lebih layak. Ia pun mulai tak mikir-mikir untuk mencari kos di harga Rp500 ribu-Rp600 ribuan.
“Tapi setiap kali melintasi kos lama di Taman Siswa, aku sering geleng-geleng kepala sambil tertawa-tertawa sendiri. Ada-ada saja hidup di perantauan ini,” tutup Gilang.

0 Komentar